RSS

PEMBELAJARAN PROBLEM POSING TIPE PRE SOLUTION POSING

13 Jan

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Matematika sebagai salah satu pelajaran yang berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, dan mengembangkan rumus matematika yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sebagai salah satu displin ilmu, menjadi pendukung bagi keberadaan ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu siswa diharapkan memiliki penguasaan matematika pada tingkat tertentu, sehingga berguna bagi siswa dalam berkompetensi di masa depan. Namun perlu disadari juga bahwa sebagian besar siswa menganggap matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dimengerti.

Salah satu penyebabnya adalah dikarenakan dalam proses penyampaiannya kurang tepat. Penyampaian pembelajaran matematika cenderung monoton dan membosankan. Dalam pembelajaran matematika tidak ada variasi-variasi belajar yang inovatif. Setiap pertemuan selalu menggunakan metode belajar yang sama. Sehingga dari pembelajaran yang seperti itu dapat menimbulkan kebosanan pada diri siswa. Penyampaian  pembelajaran yang monoton dan membosankan ini akan menurunkan semangat belajar siswa dan pada akhinya akan menjadikan siswa untuk malas belajar (Ilham Rais, 2011).

Dalam proses pembelajaran matematika sering kita lihat keengganan siswa untuk membaca buku pelajaran matematika. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan mereka memecahkan kata karena kemampuan membaca yang buruk (Charalampos Toumasis, 2004). Mereka lebih sering duduk, diam, mendengarkan, dan mencatat saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Siswa tidak diminta untuk melakukan suatu aktifitas yang sebenarnya dapat mendorong mereka untuk belajar dari aktifitas yang mereka lakukan tersebut. Sehingga dalam pelaksanaannya, siswa kurang memahami maksud maupun konsep dari materi yang telah mereka dengar dan mereka catat.

Begitu pula yang terjadi dalam proses pembelajaran matematika di SMP N 3 Semin. Proses pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional dimana guru berperan aktif dalam memberikan materi dan siswa dengan pasif menerima materi yang disampaikan oleh gurunya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu diterapkan model dalam pembelajaran matematika yang dapat melibatkan siswa secara aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi di kelas. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing.

Model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Sedangkan pre solution posing yaitu siswa membuat soal sesuai situasi yang diberikan guru kemudian menyelesaikannya sendiri.

Model pembelajaran ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat soal sesuai situasi yang diberikan oleh guru dan menyelesaikannya sendiri atau diselesaikan oleh siswa yang lain, sehingga akan terlihat kegiatan siswa siswa akan lebih dominan dibandingkan dengan guru. Soal yang telah disusun dapat diajukan sebagai bahan diskusi  bersama teman sekelompok apabila muncul permasalahan dapat didiskusikan dengan guru. Dengan demikian akan dapat dilihat sejauh mana siswa memahami materi yang telah diberikan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Melalui Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Pre Solution Posing”.

B.     Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini dapat terarah dan tidak terlalu luas jangkauannya maka dibutuhkan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing.
  2. Pemahaman konsep yang dimaksudkan dalam penelitian ini ditandai dengan indikator sebagai berikut:
    1. Kemampuan siswa dalam menyatakan ulang sebuah konsep yang diberikan oleh guru.
    2. Kemampuan siswa dalam mengolah serta menyelesaikan soal sesuai informasi yang yang diberikan oleh guru.
    3. Kemampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep dan algoritma pemecahan masalah.
  3. Penelitian ini dilakukan terhadap kelas VIII SMP Negeri 3 Semin.

 

C.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang telah diuraikan maka pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah “ Apakah penggunaan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika pada siswa kelas VIII SMP N 3 Semin”?

D.    Tujuan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan dalam usaha penelitian ini, maka tujuan yang akan dicapai adalah untuk “Mengkaji dan mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika pada siswa kelas VIII SMP N 3 Semin”.

E.     Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan tentang penggunaan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika pada siswa.

2.  Manfaat Praktis

  1. Bagi guru, sebagai referensi baru dan masukan dalam memperluas wawasan dunia pendidikan berkenaan dengan penggunaan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika.
  2. Bagi siswa, dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika.

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Kajian Pustaka

Dalam penelitian ini penulis mengacu pada penelitian-penelitian terdahulu yang relevan untuk dilakukan penelitian saat ini. Adapun penelitian tersebut antara lain :

Aristoklis A. Nicolaou (2007) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penemuan pembelajaran saat ini menyarankan bahwa peningkatan kepercayaan pada problem posing harus menjadi bagian dari pembelajaran dan pengajaran matematika. Selain itu, penemuan hubungan antara kemanjuran, kemampuan dalam problem posing dan prestasi matematika.

Albert Rosihan Budi Saputro (2011) dalam penelitiannya dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran problem posing tipe post solution dalam kegiatan pembelajaran matematika dapat meningkatkan pemahaman konsep.

Sriyadi Baharudin Nurullah (2011) dalam penelitiannya dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran problem posing tipe pre solution dalam kegiatan pembelajaran matematika dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika.

Ilham Rais Arvianto (2011) dalam penelitianya menyimpulkan bahwa penggunaan multimedia pembelajaran dengan pendekatan  Concrete Representational Abstract (CRA) dapat meningkatkan pemahaman konsep program linear pada siswa kelas XI Akuntansi 1 SMK N 1 Banyudono.

Perbedaan variable-variabel yang diteliti dapat dilihat pada tabel peta variabel penelitian berikut ini.

Tabel 2.1

Peta Variabel Penelitian

No

Nama

Metode

Y1

Y2

Y3

1

Aristoklis A. Nicolaou

Problem Posing

2

Albert Rosihan Budi Saputro

Problem Posing Tipe Post Solution

3

Sriyadi Baharudin Nurullah

Problem Posing Tipe Pre Solution

4

Ilham Rais

CRA dengan Multimedia

5

Peneliti

Problem Posing Tipe Pre Solution

Keterangan :

Y1        : Hasil belajar

Y2        : Pemahaman konsep

Y3        : Keaktifan belajar

 B.     Kajian Teori

  1. Pemahaman Konsep Matematika

a.      Hakekat Matematika

Sujono mengemukakan pengertian matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik.

(Sumber: http://karmawati-usuf.blogspot.com/2009/01/filosofi-pendidikan.html)

Menurut Uno  (2007: 129) matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas, serta mempunyai cabang-cabang antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis.

Dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan praktis.

b.      Hakekat Pemahaman Konsep

Pemahaman dalam penelitian ini adalah kesanggupan untuk mengenal fakta, konsep, prinsip, dan skill. Pemahaman meliputi penerimaan dan komunikasi secara akurat sebagai hasil komunikasi dalam pembagian yang berbeda dan mengorganisasi secara singkat tanpa mengubah pengertian.

Menurut Syaiful Sagala dalam Dian Kristiana (2009:19) menyatakan bahwa konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori.

Berikut ini merupakan indikator dari pemahaman konsep:

1)      Menyatakan ulang sebuah konsep

2)      Mengklasifikasian objek-objek menurut sifat-sifat tertentu

3)      Memberi contoh dan non contoh dari konsep

4)      Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis

5)      Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep

6)      Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu

7)      Mengaplikasikan konsep dan algoritma pemecahan masalah.

(sumber:http://ahli-definisi.blogspot.com/2011/03/definisi-pemahaman-konsep.html)

Dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah  kesanggupan untuk mengenal buah pemikiran seseorang yang dinyatakan dalam definisi  tanpa mengubah pengertian.

c.    Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Pre Solution Posing dalam Pembelajaran Matamatika

a.      Pembelajaran Matematika

Menurut Knirk & Gustafson menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

(sumber: http://www.untukku.com/artikel-untukku/pengertian-pembelajaran-untukku.html)

Menurut Usman  dalam Jihad (2010: 12) pembelajaran adalah inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Pembelajaran meerupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah hubungan timbal balik antara guru dengan siswa dalam suatu proses yang sistematis untuk membantu seorang peserta didik belajar secara aktif dalam situasi yang edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

b.      Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Pre Solution Posing

1)      Pengertian Problem Posing

Problem posing adalah istilah dalam bahasa Inggris yaitu dari kata “problem” artinya masalah, soal/persoalan dan kata “pose” yang artinya mengajukan. Problem posing bisa diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah. Jadi model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para peserta didik untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.

Menurut Silver dan Cai dalam Ali Mahmudi pembelajaran problem posing diaplikasikan dalam tiga bentuk aktivitas kognitif matematika yaitu:

a)      Pre solution posing, yaitu pembuatan soal berdasarkan situasi atau informasi yangdiberikan.

b)      Within solution posing, yaitu pembuatan atau formulasi soal yang sedang diselesaikan.

c)      Post solution posing yaitu memodifikasi atau merevisi tujuan atau kondisi soal yang telah diselesaikan untuk menghasilkan soal-soal baru yang lebih menantang.

2)      Kelebihan dan Kelemahan Problem Posing

Dalam Ilfi Norman  & Md. Nor Bakar  (2011: 1) kelebihan model problem posing adalah :

a)      Kemampuan memecahkan masalah / mampu mencari berbagai jalan dari suatu kesulitan yang dihadapi,

b)      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman siswa/ terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan

c)      Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah

d)     Meningkatkan kemampuan mengajukan soal

e)     Sikap yang positif terhadap matematika / Minat siswa dalam pembelajaran matematika lebih besar dan siswa lebih mudah memahami soal karena dibuat sendiri.

f)      Mendatangkan kepuasan tersendiri bagi siswa jika soal yang dibuat tidak mampu diselesaikan oleh kelompok lain.

Sedangkan kekurangan model pembelajaran problem posing yaitu pembelajaran model problem posing membutuhkan persiapan informasi yang banyak untuk sumber soal, dan agar pelaksanaan kegiatan dalam membuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.

3.      Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Pre Solution Posing dalam Pembelajaran Matematika

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing  sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa.
  2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
  3. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, tiap kelopok terdiri atas 4-5 siswa.
  4. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal berdasarkan informasi yang diberikan guru, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Kemudian soal-soal  tersebut dipecahkan oleh  kelompok-kelompok lain.
  5. Guru memberikan tugas rumah secara individu sebagai penguatan.

Dengan demikian pembelajaran matematika melalui model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika pada siswa.

C.    Kerangka Pemikiran

Pada kondisi awal siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Semin mempunyai kemampuan pemahaman konsep matematika yang rendah, sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini karena guru masih kurang optimal dalam memanfaatkan metode pembelajaran. Guru masih cenderung menggunakan cara tradisional dalam menyampaikan materi pelajaran, sehingga pembelajaran berpusat pada guru yang aktif menyampaikan materi, sedangkan siswa cenderung pasif dalam menerima materi.

Salah satu model pembelajaran yang dirasa tepat untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika adalah model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing. Adapun langkah-langkah model pembelajaran ini yaitu Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Guru memberikan latihan soal secukupnya. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, tiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal berdasarkan informasi yang diberikan guru, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Kemudian soal-soal  tersebut dipecahkan oleh  kelompok-kelompok lain. Guru memberikan tugas rumah secara individu sebagai penguatan.

Dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk dapat membuat soal berdasarkan informasi yang diberikan guru, selain itu siswa juga dituntut untuk dapat menyelesaikan soal yang dibuat sendiri maupun soal yang dibuat oleh kelompok lain. Dengan demikian guru dapat mengukur tingkat pemahaman materi yang telah diberikan berdasarkan bobot soal yang dibuat oleh siswa itu sendiri, serta dapat atau tidaknya siswa menyelesaikan soal yang dibuat oleh siswa sendiri maupun kelompok lain.

Kondisi akhir yang diharapkan dengan pengunaan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dalam proses pembelajaran matematika adalah dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika, sehingga siswa akan dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan atau sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Uraian di atas dapat digambarkan pada siklus sebagai berikut:

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

Kondisi Akhir

Kondisi Awal

Rendahnya pemahaman konsep matematika, yaitu kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep (33,33%), mengolah serta menyelesaikan soal (40%), mengaplikasikan konsep dan algoritma pemecahan masalah (16,67%).

Tindakan

Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing, langkah-langkahnya:

  1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa.
  2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
  3. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, tiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa.
  4. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal berdasarkan informasi yang diberikan guru, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Kemudian soal-soal  tersebut dipecahkan oleh  kelompok-kelompok lain.
  5. Guru memberikan tugas rumah secara individu sebagai penguatan.

Rendahnya pemahaman konsep matematika, yaitu kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep (lebih dari 45%), mengolah serta menyelesaikan soal (lebih dari 50%), mengaplikasikan konsep dan algoritma pemecahan masalah (lebih dari 30%).

D.    Hipotesis Tindakan

Berdasarkan hasil tinjauan pustaka tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut “Pemahaman konsep akan meningkat jika siswa diberikan pengajaran menggunakan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing”.

 BAB  III

METODE PENELITIAN

 

A.    Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif, sedangkan desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti. Menurut Hopkins dalam Sutama (2010: 15) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Tjipto Subadi (2010:79-80) adalah:

  1. Dipicu oleh permasalahan permasalahan praktis yang dihayati guru dalam pembelajaran di kelas
  2. Bersifat practice driven dan action driven, dalam arti PTK memperbaiki secara praktis, langsung, disini, dan sekarang, atau sering disebut dengan penelitian praktis (practical inquiry)
  3. Berpusat pada permasalahan spesifik konstektual
  4. Peran tim ahli (dosen) pada tahap awal adalah menjadi sounding board (pemantul gagasan) bagi guru yang menghadapi masalahan dalam pelaksanaan tugasnya
  5. Diselenggarakan secara colaboratif, ciri kolaboratif adalah sebagai kerja sama guru sejawat dalam keseluruhan tahapan penyelenggaraan PTK, mungkin bisa ditambahkan tim ahli
  6. Dilaksanakan berdasarkan system siklus minimal dua siklus
  7. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek pembelajaran
  8. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi, dan dilaksanakan dalam rangkaian langkah dari beberapa siklus

 

B.     Tempat dan Waktu Penelitian

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 3 Semin. Penelitian di tempat ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sekolah tersebut  masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional terutama dalam pembelajaran matematika. Selain itu, di sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti.

2.   Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2011/2012 yaitu pada bulan Desember 2011 – bulan Maret 2012. Adapun rincian pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Waktu Penelitian

No

Tahapan

Desember

Januari

     Februari

Maret

III

IV

V

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

1

Persiapan

2

Pelaksanaan

3

Analisis Data

4

Pelaporan

 

C.    Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Semin yang terdiri dari 30 siswa sebagai subyek yang menerima tindakan. Guru matematika kelas VIII SMP Negeri 3 Semin bertindak sebagai subyek yang memberikan tindakan. Sedangkan, Peneliti sebagai subjek yang melakukan perencanaan, pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan.

D.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika. Kepala sekolah, guru kelas dan peneliti dilibatkan sejak: 1) dialog awal, 2) perencanaan tindakan, 3) pelaksanaan tindakan, 4) observasi, 5) refleksi, dan 6) evaluasi. Langkah-langkah penelitian dapat diilustrasikan dalam gambar sebagai berikut.

Perencanaan Tindakan

Evaluasi

Refleksi

Dialog Awal

Obsevasi & Monitoring

Tindakan 1

Observasi & Monitoring  &&&&Monitoring

Tindakan 2

Perencanaan Terevisi

Siswa Mencapai Penguasaan Kompetensi

Evaluasi

Refleksi

Dan Seterusnya

Siswa Mencapai Penguasaan Kompetensi

Siklus I

Siklus II

  1. Dialog Awal

Dialog awal dilakukan dengan mengadakan pertemuan peneliti dengan guru matematika dengan maksud bersama-sama melakukan pengenalan, penyatuan ide, dan berdiskusi membahas masalah dan cara-cara peningkatan pemahaman konsep yang terfokus pada  siswa. Permasalahan ini dikhususkan pada rendahnya pemahaman konsep matematika. Diskusi ini juga nantinya akan menyepakati penggunaan solusi yang ditawarkan peneliti untuk mengatasi masalah tersebut.

  1. Perencanaan Tindakan Kelas

Perencanaan tindakan kelas disusun dan dilaksanakan setelah mengetahui permasalahan yang ada pada dialog awal. Penelitian tindakan kelas ini akan mengkaji tentang penggunaan model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika. Metode ini dilakukan karena dinilai mudah untuk dilakukan guru dalam upaya  mengatasi masalah tersebut. Tindakan ini akan dilakukan oleh guru matematika yang bersangkutan dengan diamati oleh peneli. Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing adalah:

  1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa.
  2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
  3. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, tiap kelopok terdiri atas 4-5 siswa.
  4. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal berdasarkan informasi yang diberikan guru, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Kemudian soal-soal  tersebut dipecahkan oleh  kelompok-kelompok lain.
  5. Guru memberikan tugas rumah secara individu sebagai penguatan.
  6. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan sesuai dengan rencana, namun pelaksanaan penelitian bersifat fleksibel tidak harus mutlak sesuai dengan rencana. Kefleksibelan perlu digunakan dalam usaha mencapai perbaikan karena dalam situasi nyata sering terjadi hal-hal yang tidak diduga. Pelaksanaan tindakan kelas dilakukan oleh guru dengan diamati oleh peneliti. Sedangkan peneliti bertugas melakukan pengamatan saat tindakan berlangsung.

2.    Observasi dan Monitoring

Observasi dan monitoring dilakukan ketika pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama tindakan berlangsung. Peneliti tidak hanya mengamati dan mencatat, tetapi juga menemukan hal-hal yang semula tidak terungkap dalam diskusi dengan guru sebab bersifat fleksibel.

3.    Refleksi

Menurut Arikunto dalam Ilham Rais (2011: 51), kegiatan ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan ini dilakukan dengan cara guru berhadapan dengan peneliti kemudian mengungkapkan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik dan  hal-hal yang belum berjalan. Hal ini dilakukan untuk mengoreksi sekaligus mendiskusikan implementasi rancangan tindakan berikutnya.

4.     Evaluasi

Evaluasi sebagai proses mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi, sehingga bermanfaat untuk pengambilan keputusan tindakan, melakukan tindakan, pengamatan, refleksi. Evaluasi merupakan proses yang terkait secara sistematis dan berkesinambungan.

E.     Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data didunakan untuk menentukan data-data yang dibutuhkan dapat diolah menjadi suatu data yang dapat disajikan sesuai dengan masalah yang dihadapi. Dalam penelitian ini metode yang digunakan peneliti yaitu metode pokok dan metode bantu.

  1. Metode Pokok

Metode pokok adalah metode utama yang digunakan dalam pengumpulan data yang kemudian diolah dan dianalisa. Data pada penelitian ini akan dikumpulkan melalui metode tes dan metode observasi.

2.    Tes

Menurut Sutama (2010: 35) tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dijadikan penetapan skor angka.

3.     Observasi

Menurut Arikunto (2006: 229) dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

Dalam penelitian ini, observasi digunakan untuk mengetahui adanya perubahan tingkah laku tindakan belajar siswa yaitu peningkatan pemahaman konsep matematika melalui model pembelajaran problem posing tipe pre solution posing. Peneliti melakukan observasi sesuai dengan pedoman observasi yang ditetapkan.

2.     Metode Bantu

  1. Catatan Lapangan

Catatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen (Lexy Moleong, 2008 : 209) adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami dan dipikirkan untuk mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Dalam hal ini catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian penting yang muncul pada saat proses pembelajaran matematika berlangsung.

2.     Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah berupa RPP, buku-buku, buku presensi, dan lain-lain. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah, nama siswa, dan foto proses tindakan penelitian.

F.     Instrumen Penelitian

  1. Pengembangan Instrumen

Pedoman observasi dalam penelitian ini adalah mengamati secara langsung dengan teliti, cermat dan hati-hati terhadap fenomena yang ada. Dalam penelitian ini yang diobservasi adalah  fenomena yang terjadi saat pembelajaran matematika berlangsung. Observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan.

Dalam pelaksanaan observasi ini, peneliti menggunakan pedoman observasi yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

  1. Observasi tindak mengajar yang disesuaikan dengan  rencana pembelajaran.
  2. Observasi tindak belajar yang berkaitan dengan pemahaman konsep dalam pembelajaran.
  3. Keterangan tambahan yang berkaitan dengan tindak mengajar maupun tindak belajar yang belum tercapai.

2.     Validitas Isi Instrument

Instrument tindakan kelas ini disusun untuk mengukur peningkatan pemahaman konsep matematika. Menurut Arikunto (2009:67) instrument dikatakan memiliki validitas isi jika mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.

Pengujian validitas instrumen menggunakan teknik triangulasi. Menurut Moleong (2008: 330) triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut. Teknik triangulasi dalam pengujian instrumen dilakukan dengan tiga cara yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.

G.    Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode alur. Dimana langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode alur meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan verifikasi data.

  1. Proses Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji kemudian membuat rangkuman untuk setiap pertemuan atau tindakan di kelas.

  1. Penyajian Data

Pada langkah penelitian ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga dapat menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Dengan cara menampilkan data dan membuat hubungan antara variable, peneliti mengerti apa yang terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

  1. Verifikasi Data

Verifikasi data atau penarikan kesimplan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan tinggi. Dengan demikian analisis data dalam penelitia ini dilakukan sejak tindakan dilaksanakan. Verifikasi data dilakukan pada setiap tindakan yang pada akhirnya dipadukan menjadi kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA

                     . 2011. Pengertian Pembelajaran. http://www.untukku.com/artikel-untukku/pengertian-pembelajaran-untukku.html. Diakses pada tanggal 17 November 2011.

Ali Mahmudi (Desember 2008). Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Matematika diselenggarakan oleh Jurusan Matematika FMIPA UNPAD  bekerjasama dengan Departemen Matematika UI, di Universitas Padjajaran.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Aristoklis A. Nicolaou & George N. Philippou. 2007. “Efficacy Beliefs, Problem

Posing, And Mathematics Achievement”, Journal for Research in Mathematics Education ,  29 ( 1 ),  83-106.

Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Press Indonesia.

Karmawati. 2008. Hakikat Matematika. http://karmawati-yusuf.blogspot.com/2008/12/1-hakikat-matematika.html. Diakses pada tanggal 3 November 2011.

Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Norman, Ilfi., Md. Nor Bakar. 2011. “Secondary School Students’ Problem Posing Strategies: Implications To Secondary School Students’ Problem Posing Performances”. Journal of Edupres, Volume 1 September 2011, 1-8.

Nurullah, Sruyadi Baharudin. 2011. Implementasi Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Pre Solution Posing Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika ( PTK Kelas VII Semester Gasal SMP N 1 Bulu Tahun Ajaran 2010/2011). Skripsi, UMS (tidak diterbitkan).

Permata, Dian Kristiana. 2009. Peningkatan Pemahaman Konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) dalam Pembelajaran Matematika melalui Pendekatan Think Pairs Share (TPS) (PTK Pembelajaran Matematika di Kelas VIII SMP Negeri 5 Sragen). Skripsi, UMS (tidak diterbitkan).

Rais, Ilham. 2011. Penggunaan Multimedia Pembelajaran untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Program Linear pada Siswa dengan Pendekatan  Concrete Representational Abstract (CRA)  (PTK Pembelajaran Kelas XI Akuntansi 1 SMK N 1 Banyudono). Skripsi, UMS (tidak diterbitkan).

Saputro, Albert Rosihan Budi. 2011. Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Post Solution (PTK pada siswa kelas VII semester I MTsN Bekonang Filial Kartasura Tahun 2010/2011). Skripsi, UMS (tidak diterbitkan).

Subadi, Tjipto. 2011. PTK (Penelitan Tindakan Kelas) Berbasis Lesson Study. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Sutama. 2011. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: CV.Citra Mandiri Utama.

Toumasis, Charalampos. 2004. Cooperative study teams in mathematics classrooms. International Journal. Mathematic. Education Science Technology, vol. 35, no. 5, 669–679.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Zulaiha. 2006. Definisi Pemahaman Konsep. http://ahli-definisi.blogspot.com/2011/03/definisi-pemahaman-konsep.html. Diakses pada tanggal 13 Desember 2011.

 
Leave a comment

Posted by on January 13, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: